LEPASNYA PULAU SIPADAN DAN LIGITAN
DARI NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA
Pulau Sipadan dan Ligitan merupakan pulau kecil yang luasnya 23 hektar. Pulau Ligitan terdiri dari semak belukar dan pohon-pohon. Sementara itu, Sipadan merupakan pucuk gunung merapi di bawah permukaan laut dengan ketinggian berkisar 700 meter. Sampai pada tahun 1980-an, dua pulau ini tidak berpenghuni.
Bagi Indonesia dan Malaysia, dua pulau ini mempunyai arti penting, yakni batas tegas antar dua negara tersebut. Sengketa kepemikikan Sipadan dan Ligitan sebenarnya sudah terjadi sejak masa kolonial antara pemerintah Hindia Belanda dan Inggris. Pulau Sipadan pernah dimasukkan dalam peraturan tentang perlindungan Penyu (Trutle Preservation Ordinance) oleh pemerintah Inggris pada tahun 1917. Keputusan ini ditentang pemerintah Hindia Belanda yang merasa memiliki pulau tersebut.
Sengketa kepemilikan kedua pulau tersebut tidak kunjung reda. Sengketa Sipadan dan Ligitan kembali kuncul ke permukaan pada tahun 1969. Sayang tidak ada penyelesaian tuntas sehingga kasus ini kembali mengembang. Pemerintah Indonesia-Malaysia kemudian sepakat membawa kasus ini ke Mahkamah Internasional (MI) pada tahun 1997. Pada putusan MI yang jatuh pada 17 Desember 2002, Indonesia dinyatakan kalah.
Dalam menghadapi sengketa ini Indonesia sampai menyewa lima penasihat hukum asing dan tiga peneliti asing. Sayangnya, segala upaya itu mentah di depan 17 hakim MI. Malaysia dimenangkan oleh 16 hakim, sementara hanya seorang hakim yang berpihak pada Indonesia. Dari 17 hakim itu, 15 orang merupakan hakim tetap MI, sementara satu hakim merupakan pilihan Malaysia dan seorang lagi dari Indonesia. Dalam hal ini Pemerintah Indonesia menyatakan rasa kecewa yang mendalam karena upaya yang dilakukan sejak 1997 akhirnya kandas.
Namun, kita berkewajiban untuk menghormati segala keputusan yang telah ditetapkan. Kita harus kembali bersama-sama untuk menjaga dan memelihara segala yang ada pada Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Lepasnya Pulau Sipadan dan Ligitan ini sebenarnya peringatan penting bagi Pemerintah Republik Indonesia untuk lebih memperhatikan pulau-pulau kecil yang merupakan milik Indonesia. Pulau yang paling menghawatirkan tentu saja pulau-pulau yang berbatasan dengan negara lain.
Sebagai penerus bangsa, kita harus memiliki jiwa kesatria dan rela berkorban demi bangsa dan negara.
“don’t ask what your country can do for you, but ask what you can do for your country.”
Kamis, 25 April 2013
Senin, 25 Maret 2013
puisi
Tombak Kemenangan
(Santi Wahyu Pamungkas)
Seperti halnya matahari di pagi buta
Merayap-rayap dalam keremangan
Hanya akan menunjukkan kesempurnaannya
Untuk menjalankan tugasnya menerangi bumi
Begitu kala mimpi berubah menjadi nyata
Semua penuh usaha yang tidak mudah
Disaat kebahagiaan ada di depan mata
Kuraih indahnya kemilau untuk cermin usiaku
Ada sebercak tanda yang mengesankan
Di balik cinta ada duka
Di belakang bahagia ada usaha
Kepada Tuhan ku persembahkan
Mimpi indahku menjadi nyata
Berkat cinta, kuasa, dan usaha
Di depanku tombak kemenagan telah menantang
Kuraihnya dengan doa dan keyakinan
Tuhan menuntunku di depan dan belakang
Membasarkanku dalam dekapan kemenangan
Senja kepada Malam
(Santi Wahyu Pamungkas)
Senja turun dari atas bukit
Lalu lembah-lembah berwarna keemasan
Ada kilauan cahaya di langit barat
Mega-mega merenung di tebari sinaran kuning
Angin menemani geraknya bola api
Semilir terasa di pori-pori
Ombak laut ikut mereda
Burung camar hilang di balik cakrawala
Laut terasa meninggi
Tanpa kata cerita
Telihatlah bola api terjatuh di balik gundukkan air
Senja merenung di belahan lain
Ada yang hilang dari kesibukan kala senja kepada malam
Tidak lama gelap menyelimuti sekujur tubuh bumi
Dingin hilagkan haus di malam panjang
Ayunan deru kabut membelai kulit bumi
Dan ranjang menanti untuk tempat peristirahatan
(Santi Wahyu Pamungkas)
Seperti halnya matahari di pagi buta
Merayap-rayap dalam keremangan
Hanya akan menunjukkan kesempurnaannya
Untuk menjalankan tugasnya menerangi bumi
Begitu kala mimpi berubah menjadi nyata
Semua penuh usaha yang tidak mudah
Disaat kebahagiaan ada di depan mata
Kuraih indahnya kemilau untuk cermin usiaku
Ada sebercak tanda yang mengesankan
Di balik cinta ada duka
Di belakang bahagia ada usaha
Kepada Tuhan ku persembahkan
Mimpi indahku menjadi nyata
Berkat cinta, kuasa, dan usaha
Di depanku tombak kemenagan telah menantang
Kuraihnya dengan doa dan keyakinan
Tuhan menuntunku di depan dan belakang
Membasarkanku dalam dekapan kemenangan
Senja kepada Malam
(Santi Wahyu Pamungkas)
Senja turun dari atas bukit
Lalu lembah-lembah berwarna keemasan
Ada kilauan cahaya di langit barat
Mega-mega merenung di tebari sinaran kuning
Angin menemani geraknya bola api
Semilir terasa di pori-pori
Ombak laut ikut mereda
Burung camar hilang di balik cakrawala
Laut terasa meninggi
Tanpa kata cerita
Telihatlah bola api terjatuh di balik gundukkan air
Senja merenung di belahan lain
Ada yang hilang dari kesibukan kala senja kepada malam
Tidak lama gelap menyelimuti sekujur tubuh bumi
Dingin hilagkan haus di malam panjang
Ayunan deru kabut membelai kulit bumi
Dan ranjang menanti untuk tempat peristirahatan
puisi
Untuk Tuhan
(Santi Wahyu Pamungkas)
Mengenangmu
Mengingatkan tentang masa dahulu
Ketika aku mengerti tentang ini dan itu
Cintamu telah menghujamku terlebih dahulu
Disaat aku kehilangan segala yang aku damba
Aku merana tanpa air mata
Terluka yang tak kusengaja
Terik ini mengingatkan aku pada masa lalu
Ketika tubuhku masih sekecil debu
Sekarang kau dewasakan aku dengan cerita ini
Mengenang masa lalu yang begitu berarti
Mencintaimu di sepanjang waktuku
Untuk cintaku, kenang aku dalam rindumu
Jatuhkan asmaramu di pundak kecilku
Waktuku tak terbatas untukmu
Dalam hitungan kehampaan
Cintaku bertumpu padamu Tuhan
(Santi Wahyu Pamungkas)
Mengenangmu
Mengingatkan tentang masa dahulu
Ketika aku mengerti tentang ini dan itu
Cintamu telah menghujamku terlebih dahulu
Disaat aku kehilangan segala yang aku damba
Aku merana tanpa air mata
Terluka yang tak kusengaja
Terik ini mengingatkan aku pada masa lalu
Ketika tubuhku masih sekecil debu
Sekarang kau dewasakan aku dengan cerita ini
Mengenang masa lalu yang begitu berarti
Mencintaimu di sepanjang waktuku
Untuk cintaku, kenang aku dalam rindumu
Jatuhkan asmaramu di pundak kecilku
Waktuku tak terbatas untukmu
Dalam hitungan kehampaan
Cintaku bertumpu padamu Tuhan
cara berbicara sopan
Bercakap-cakap secara sopan
Bercakap-cakap merupakan salah satu bentuk komunikasi. Saat bercakap-cakap, kita harus bersikap sopan. Dalam suatu percakapan, orang sering kali menggunakan kata atau ungkapan yang sesuai dengan konteks pembicaraan.
Unsur utama dalam berkomunikasi adalah bagaimana seseorang dapat menggunakan bahasa yang baik dan tepat. Selain itu, seseorang perlu mempertimbangkan pula aspek situasi, waktu, tempat, dan hubungan pembicara mitra atau kawan bicaranya, misalnya, saat membuka percakapan, saat menyampaikan pesan, dan ketika akan menutup pembicaraan.
1. Pilihlah Kata atau Ungkapan untuk Memulai Percakapan
Ada beberapa pilihan kata atau ungkapan yang lazim digunakan saat memulai percakapan. Berikut ini disajikan beberapa contoh ungkapan pembuka percakapan dalam berbagai situasi.
Untuk memulai percakapan dalam situai formal, pembicara biasanya menggunakan uangkapan seperti contoh :
Selamat pagi pemirsa di mana pun anda berada.
Salam sejahtera bagi kita semua.
Selamat datang.
Atau, ucapan pembuka dengan sapaan seperti berikut :
Bapak-bapak dan Ibu-ibu serta hadirin ... selamat pagi.
Para tamu undangan yang berbahagia.
Contoh ungkapan pembuka lewat telepon dalam ragam formal :
Selamat pagi. Bisa bicara dengan ..... saya dari .....
Assalamualaikum .....
2. Pilihan Kata atau Ungkapan untuk Mengakhiri Percakapan
Saat akan mengakhiri percakapan, pembicara sebaiknya melakukan hal-hal di bawah ini :
a. Memegaskan kembali hal yang penting dari apa yang telah dibicarakan agar tetap diingat atau tidak lupa untuk dilakukan.
Contoh :
Dalam situasi formal :
Baiklah, sampai bertemu besok di rapat ......
Sebagai penutup, kita simpulkan bahwa .....
Baiklah pemirsa di rumah, jika ada saran dan kritik, kirimkan ke ......
Dalam situasi nonformal :
Oke, jangan lupa besok ketemu di ......
Udah dulu, ya, pokoknya besok ......
Oke, jadi, kan besok?
b. Mengucapkkan terima kasih
Contoh :
Dalam situasi formal :
Atas perhatian Bapak dan Ibu, kami mengucapkan terima kasih.
Terima kasih atas segala bantuan yang telah Anda berikan.
Terima kasih atas kesediaan waktunya.
Dalam situasi nonformal :
Makasih, ya!
Thanks sudah mau kasih saran!
Trims, ya!
c. Pemintaan maaf
Contoh :
Dalam situasi formal :
Kami mohon maaf jika ada pelayanan yang tidak berkenan.
Mohon maaf jika ada kata-kata yang tidak pantas.
Dalam situasi nonformal :
Maaf, ya, kalau ada salah ucap.
Maafin, ya, kalau ada salah kata.
d. Ungkapan perpisahan serta harapan
Contoh :
Dalam situasi formal :
Selamat jalan semoga sampai di tujuan.
Selamat berpisah, semoga kita bertemu lagi.
Ucapan perpisahan nonformal :
Sampai nanti, ya ....
Salam buat keluarga, ya!
e. Menutup percakapan dengan salam penutup
Contoh :
Dalam situasi formal :
Assalamualikum.
Selamat pagi.
Dalam situasi nonformal :
Met pagi semuanya!
Malam!
Bercakap-cakap merupakan salah satu bentuk komunikasi. Saat bercakap-cakap, kita harus bersikap sopan. Dalam suatu percakapan, orang sering kali menggunakan kata atau ungkapan yang sesuai dengan konteks pembicaraan.
Unsur utama dalam berkomunikasi adalah bagaimana seseorang dapat menggunakan bahasa yang baik dan tepat. Selain itu, seseorang perlu mempertimbangkan pula aspek situasi, waktu, tempat, dan hubungan pembicara mitra atau kawan bicaranya, misalnya, saat membuka percakapan, saat menyampaikan pesan, dan ketika akan menutup pembicaraan.
1. Pilihlah Kata atau Ungkapan untuk Memulai Percakapan
Ada beberapa pilihan kata atau ungkapan yang lazim digunakan saat memulai percakapan. Berikut ini disajikan beberapa contoh ungkapan pembuka percakapan dalam berbagai situasi.
Untuk memulai percakapan dalam situai formal, pembicara biasanya menggunakan uangkapan seperti contoh :
Selamat pagi pemirsa di mana pun anda berada.
Salam sejahtera bagi kita semua.
Selamat datang.
Atau, ucapan pembuka dengan sapaan seperti berikut :
Bapak-bapak dan Ibu-ibu serta hadirin ... selamat pagi.
Para tamu undangan yang berbahagia.
Contoh ungkapan pembuka lewat telepon dalam ragam formal :
Selamat pagi. Bisa bicara dengan ..... saya dari .....
Assalamualaikum .....
2. Pilihan Kata atau Ungkapan untuk Mengakhiri Percakapan
Saat akan mengakhiri percakapan, pembicara sebaiknya melakukan hal-hal di bawah ini :
a. Memegaskan kembali hal yang penting dari apa yang telah dibicarakan agar tetap diingat atau tidak lupa untuk dilakukan.
Contoh :
Dalam situasi formal :
Baiklah, sampai bertemu besok di rapat ......
Sebagai penutup, kita simpulkan bahwa .....
Baiklah pemirsa di rumah, jika ada saran dan kritik, kirimkan ke ......
Dalam situasi nonformal :
Oke, jangan lupa besok ketemu di ......
Udah dulu, ya, pokoknya besok ......
Oke, jadi, kan besok?
b. Mengucapkkan terima kasih
Contoh :
Dalam situasi formal :
Atas perhatian Bapak dan Ibu, kami mengucapkan terima kasih.
Terima kasih atas segala bantuan yang telah Anda berikan.
Terima kasih atas kesediaan waktunya.
Dalam situasi nonformal :
Makasih, ya!
Thanks sudah mau kasih saran!
Trims, ya!
c. Pemintaan maaf
Contoh :
Dalam situasi formal :
Kami mohon maaf jika ada pelayanan yang tidak berkenan.
Mohon maaf jika ada kata-kata yang tidak pantas.
Dalam situasi nonformal :
Maaf, ya, kalau ada salah ucap.
Maafin, ya, kalau ada salah kata.
d. Ungkapan perpisahan serta harapan
Contoh :
Dalam situasi formal :
Selamat jalan semoga sampai di tujuan.
Selamat berpisah, semoga kita bertemu lagi.
Ucapan perpisahan nonformal :
Sampai nanti, ya ....
Salam buat keluarga, ya!
e. Menutup percakapan dengan salam penutup
Contoh :
Dalam situasi formal :
Assalamualikum.
Selamat pagi.
Dalam situasi nonformal :
Met pagi semuanya!
Malam!
cerpen
MEGA DI ATAS AWAN
Malam begitu sunyi. Hanya suara deru angin menemani derasnya hujan yang turun. Suasana di luar tampak kemilau dengan kilauan guntur yang terus bergemuruh di tengah malam gulita. Seperti ada yang tak biasa malam ini. Tak satupun terdengar suara kendaraan berlalulalang. Hal yang seakan belum pernah di rasakan sebelumnya. Malam ini ada yang ganjil di benakku. Seperti takut untuk memandang malam sendirian. Kusadari, sebercak sinar kecil berhenti di atas buku yang baru saja selesai ku baca. Kunang-kunang kecil yang lucu. Warna kuning kecil sebagai pertanda bahwa ia muncul kembali.
Aku terdiam sambil terus memandangi kunang-kunang kecil di atas buku. Tak kuasa berdiam sendiri menati hal yang tidak mungkin ku nanti sendiri. Mataku terasa berat untuk terus terbuka. Waktu itu pukul 22.45, dan aku sedikitpun belum mau beranjak untuk tidur walau matakupun telah redup. Kupandangi lagit kamarku yang penuh dengan warna kesucian itu. Sejenak aku membaringkan tubuhku pada ranjang yang ada di bagian ujung kamarku itu. Dalam sekejap aku terpejam dan kantukpun datang.
Baru saja aku terlelap, pintu kamarku di ketuk dari luar. Aku regagap dan bangun. Sambil merapihkan rambutku, aku bernjak menuju bibir pintu. Ku dengar suara ibu memanggil namaku.
“Raya! Bangun sebentar, nak,”kata ibu dari luar.
Aku segera membuka daun pintu. Kulihat ada sebercak bekas air mata di pipi ibu yang mulai keriput karena faktor usia. Aku bertanya-tanya dalam hati.
“ada apa ibu memanggilku malam-malam begini? Sepertinya ibu habis menangis?” tanyaku pada ibu.
Ibu diam tidak menjawab. Bahkan yang membuatku semakin tidak mengerti yaitu ketika ibu kembali menjatuhkan air matanya. Ada perasaan panik di fikiranku.
“ibu kenapa? Mengapa ibu menagis? Katakan pada Raya, apa yang terjadi, Bu!” pintaku pada ibu.
Ibu masih diam. Aku menjadi semakin bingung. Sebentar kemudian aku mendengar ibu menyebutkan nama Mas Jhon dengan nada suara yang begitu rendah dan aku hampir tidak mendengarnya. Dalam hatiku bertanya-tanya.
“ada apa dengan Mas Jhon, Bu? Mengapa Ibu menagis?” tanyaku kemudian.
“Jhon..... Jhon.... Jhon kecelakaan, Raya.” Pekik ibu.
Seketika tubuhku lemas dan tak lama kemudian gelap menyelimuti mataku.
Pagi hari ini kurasakan tiada kesejukkan di rona mataku. Sejak aku sadar dari pingsanku semalam, aku terus menangis. Seperinya hujan semalam bertanda buruk untukku. Kini akupun merasakan hal yang sama sekali menyedihkan. Ada yang kurang dari kekuatanku jika Mas Jhon tiada di dekatku. Dia adalah orang yang telah menjagaku selama 4 tahun terakhir ini. Kini kami sama-sama tergeletak di rumah sakit yang berbeda.
Sebanarnya hari senin esok adalah hari bahagiaku bersama Mas Jhon. Tapi kecelakaan semalam agaknya akan mengganggu hari indah kita nanti.
Aku ingin beranjak bangun dan menemui Mas Jhon. Tapi tubuhku belum sehat betul. Aku hanya menangis sendiri di atas tempat tidur itu. Ibu tertidur di sampingku dengan wajah yang tanpa kebahagiaan. Aku merasa ada yang kurang dengan keluargaku. Di mana Mahesa? Sejak sore kemarin rasannya aku tidak melihatnya. Apakah dia main kerumah temannya hingga larut malam dan tidak kunjung pulang? Apakah ia tidak tahu sekarang aku sedang tergelatak di rumah sakit? Fikiranku jadi tidak menetu. Entah memikirkan Mas Jhon ataupun Mahesa.
Ibu masih terlelap di sampingku. Aku kasihan melihat wajahnya yang kian lama kian murung. Setelah di tinggal ayah, ibu tampak tertekan dengan hadirnya hari-hari baru di hidupnya.
Sekarang hal yang tak kami inginkan datang kembali. Aku benar-benar tidak mengerti apa maunya hidup ini. Kadang jika aku sedang bahagia, segalanya terasa singkat. Berbeda seperti hari ini. Waktu terasa lama untuk berputar.
Ada yang bergerak di sisiku. Ibu rupanya telah bangun dari tidurnya yang sama sekali tidak pulas. Ada bekas tangis yang sangat mendalam di wajahnya. Mungkin karena ada rasa sesal di dalam hatinya tentang kejadian semalam. Ibu menyerka wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Kuberikan senyum istimewaku walau senyum ini tidak pernah ku rencanakan. Beliau membalas senyuman yang baru saja lenyap dari bibirku. Teramat pahit bagikku.
“sayang, bagaimana? Apakah masih pusing?” tanya ibu padaku,
“sudah agak berkurang, Bu. Aku ingin cepat pulang.” Pintaku pada ibu.
“biarkan hilang dahulu sakitnya, baru nanti kita pulang.” Kata ibu.
“baik, Bu. Aku mengerti”
“ibu tahu, kamu pasti mengkhawatirkan keadaan Jhon. Tapi, kamu juga harus memperhatikan kondisi tubuhmu. Ibu tahu kamu sangat menyayangi Jhon.”
“ibu...jangan buat aku jadi memikirkan yang tidak-tidak. Aku akan semakin khawatir jika ibu berkata begitu.”
“maafkan ibu, Raya.”
Aku hanya mengangguk pelan sambil terus memandangi dinding tembok yang begitu kokoh berdiri di hadapan ku. Ku geser sedikit tempatku berbaring agar nyaman.
“ibu, sejak sore kemarin aku tidak melihat Mahesa di rumah. Kemana dia?” tanyaku pada ibu.
“kemarin ia pamit mau belajar di rumah temannya. Katanya mau lembur tugas sekolah yang belum selesai. Nanti juga ia pulang.” Kata ibu padaku.
“apakah ia tidak tahu aku berada di sini sekarang? Ibu belum memberikan kabar padanya?”
“ibu sudah mencoba menelponnya. Tapi handphonnya tidak aktif.”
“ibu tidak khawatir dengan Mahesa? Dia anak perempuan! Kalau sampai terjadi apa-apa dengan dia bagaimana, Bu? Mengapa ibu ijinkan ia keluar malam-malam begitu?”
“Raya, tenagkan fikiranmu. Ibu percaya Mahesa dapat menjaga diri dengan baik. Dia sudah besar, tentunya ia dapat berfikir untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.”
“huh...........ibu terlalu percaya pada kedewasaan orang. Belum tentu Mahesa mengerti ini dan itu yang benar dan yang salah.”
“sudahlah, kau harus beristirahat. Bukan untuk marah-marah begitu pada ibu!”
Aku terdiam sejurus. Ada perasaan kecewa terhadap pendapat ibu yang baru saja.
**********
Tubuhku sudah agak baik dari hari kemarin. Sekarang aku berada di rumah setelah dua hari tergeletak di rumah sakit. Mahesa telah pulang sore kemarin. Tidak ada sedikitpun perasaan yang muncul dari raut wajahnya yang sudah tampak dewasa. Bahkan megetahui aku sakitpun ia seperti acuh dan tidak mau mengerti keaadaanku sekarang.Begitukah jika orang sudah terbiasa dengan dunianya sendiri.
Hari ini aku menjenguk Mas Jhon di rumah sakit. Tapi ternyata Mas Jhon sudah dibawa pulang ke rumah. Berarti kondisinya sudah membaik.
Aku dan ibu menjenguk Mas Jhon di rumahnya. Kubawakan masakan yang ia sukai, semoga dengan itu ia benar-benar sembuh. Perjalananku agak lama, karena kami harus mengunggu taxi untuk dapat sampai di rumah Mas Jhon. Sepanjang perjalanan, aku dan ibu saling bercakap-cakap. Kadang menceritakan masa indah yang esok akan ku lalui bersama Mas Jhon, kadang pula menceritakan Mahesa yang menjadi acuh dengan aku dan ibu.
Hari ini agaknya aku benar-benar akan bertemu dengan Mas Jhon. Kadang muncul kebahagiaan di hati ini, tapi agaknya kesedihanku tiba-tiba muncul di setiap sela-sela tatapan mata ini. Entahlah, mengapa begini?
Kakiku telah menginjak halaman rumah Mas Jhon. Ada perasaan tidak menentu bergemuruh di benakku. Apa yang akan aku ucapkan nanti ketika aku bertemu dengan Mas Jhon? Aku kehilangan kata-kata yang telah kurangkai semalaman. Kakiku terasa berat untuk melangkah menuju bibir pintu. Terlebih perasaanku yang semakin tidak karuan membuatku enggan untuk memasuki rumah mewah itu.
“Raya, ayo! Kenapa hanya diam di situ? Cepat!” pinta ibu padaku.
Aku tersentak mendengar ucapan ibu yang seperti baru saja aku dengarkan.
Akhirnya, didorong oleh sekumpulan keberanianku, aku mulai menggerakkan bibirku yang menjadi berat untuk mengucapkan kata-kata.
“asalamualaikum”
Tidak ada sahutan dari dalam rumah. Pintu sudah terbuka sejak tadi, tapi rumah tampak sepi. Kuberanikan kembali menyapa. Kali ini aku mendengar sahutan dari dalam rumah. Suara itu sangata aku kenal. Itu pasti suara tante Mirna.
“Raya, Bu Desi. Mari silakan masuk.” Sapa tante Mirna.
“terimakasih,” jawab ibu.
“duduk dulu, saya ambilkan minum sebentar,ya.”
Tante Mirna berlalu ke dapur. Aku dan ibu hanya berpandangan lalu terdiam bersama-sama. Ku pandangi dinding-dinding rumah itu. Sama sekali belum berubah. Ada lukisan lelaki yang tengah duduk di bawah pohon yang rindang, lukisan itulah yang dahulu ku hadiahkan untuk ulang tahun Mas Jhon yang ke 28 tahun.
Tante Mirna muncul dengan membawa tiga gelas berisi minuman. Kemudian duduk di depan sebelah kanan ibu.
“maaf, Bu. Kami baru bisa menjenguk Jhon sekarang. Dua hari kemarin Raya berada di rumah sakit, jadi kami baru sempat menjenguk sekarang.” Kata ibu.
“tidak apa-apa. Raya sakit apa?”
“biasa. Sakit yang kadang datang. Waktu saya beritahu tentang Jhon, tiba-tiba dia tidak sadarkan diri.”
“tapi sudah sembuh sekarang, Raya?”
“alhamdulillah, Tante. Bagaiman keadaan Mas Jhon? Sudah baik, Tante?” tanyaku.
“begitulah, Raya. Lukanya tidak terlalu parah untungnya.” Jawah Tante Mirna dengan raut wajah yang kurang cerah.
“oh....bolehkah saya bertemu Mas Jhon, Tante?” kataku yang mulai kehilangan kata-kata.
“boleh. Biar Tante panggil ke sini saja dia.” Kata tante Mirna sambil beranjak dari duduknya.
Aku merapihkan jilbabku. Kutata perasaanku untuk bertemu orang yang aku kenal sejak 4 tahun silam.
Tidak lama, ku lihat Mas Jhon berjalan sambil menyeret kakinya. Aku beranjak untuk membantunya berjalan, tapi entah mengapa tiba-tiba Mas Jhon memberi isyarat padaku untuk tidak beranjak dari tempat dudukku. Aku tertegun? Hatiku bertanya-tanya. Apa yang terjadi? Mengapa Mas Jhon lain dari hari biasanya? Apa dia marah padaku karena aku baru bisa menjenguknya sekarang? Fikiranku terasa penuh dengan tanda tanya. Apakah ini namanya fikiran yang tengah gundah?
Mataku berkaca-kaca. Hampir saja air mata ini menetes, tapi buru-buru ku tundukkan kepalaku agar Mas Jhon tidak mengetahuinya.
“Selamat siang tante,” sapa Mas Jhon pada ibu sambil duduk di dekat tante Mirna.
“siang, Jhon? Bagaimana keadaanmu sekarang? Sudah lebih baik bukan? Maaf tante dan Raya baru bisa menjenguk sekarang.” Kata ibu pada Mas Jhon.
“alhamdulillah, Tante. Sudah lebih baik. Tidak apa-apa. Saya tahu.” Jawab Mas Jhon.
Aku tertunduk diam membisu. Entah perasaan apa ini namanya. Ingin rasanya cepat pulang agar aku dapat kembali menata perasaanku ini. Aku seakan tidak menyadari bahwa sejak tadi Mas Jhon menatap wajahku yang terus tertunduk.
“Raya, kenapa hanya diam saja? Bicara sama Jhon.” Kata ibu padaku yang masih tertunduk.
“oh....” aku tergagap dan Mas Jhon melemparkan senyum di bibirnya yang sangat aku kagumi.
“iya, dari tadi diam saja. Apa yang sedang di pikirkan?” goda Mas Jhon.
“tidak! Tidak ada apa-apa kok.”
“huh....sebenarnya malam yang lalu saya mau ke rumah tante. Tapi, sepertinya Tuhan mengabarkan hal yang tidak saya duga kepada diri saya malam itu.” Cerita Mas Jhon.
“sudahlah, Jhon.” Tukas tante Mirna.
Kami terdiam beberapa saat. Kami kehilangan ucapan untuk bercakap-cakap. Telebih aku.
“yang penting sekarang keadaanmu sudah lebih baik, Jhon. Kamu perlu istirahat untuk memulihkan kesehatanmu itu,” kata ibu.
“iya, tante.” Mas Jhon menghela napas dalam-dalam. Lalu di teruskan ucapannya, “sebenarnya, akh..... saya bingung mau bicara dari mana, tante. Kalau saya tidak bicarapun mungkin tante dan Raya sudah tahu sendiri.”
“Jhon!” geram tante Mirna.
“entahlah. Huh......” tukaasnya.
Aku menatap wajah tante Mirna berubah. Matanya berkaca-kaca dan bibirnya bergetar. Sebentar kemudian aku melihat ada tetesan air mata jatuh di pangkuan tante Mirna. Aku dan ibu diam. Sebenarnya apa yang terjadi? Lalu, ku lihat tante Mirna menyerka air mata itu di pipinya.
“apa yang terjadi? Mengapa Ibu tiba-tiba menagis?” tanya ibu pada tante Mirna.
“tidak....tidak apa-apa. Hanya badan saya kurang enak.” Jawab tante Mirna.
“tante, sebenarnya ada satu hal yang akan saya sampaikan kepada tante dan Raya. Sulit sebenarnya. Darimana saya memulainya.” Kata Mas Jhon.
“apa itu, Mas?” tanyaku kemudian.
“kita semua harus kuat hati. Ini bukan hal mudah yang akan ku sampaikan. Tante, sebenarnya ini bukan keinginan saya ataupun mama. Huh.... kalau ini hanya mimpi mungkin saya akan segera bangun dan menemui Raya. Tapi ini adalah kenyataan yang harus kami hadapi besama-sama....” kata-kata Mas Jhon terhenti sejenak.
“sungguh, demi apapun saya sangat mencintai Raya. Tapi, agaknya Tuhan menuliskan yang lain untuk saya dan Raya. Tante, saya sebenarnya tidak mau menggagalkan pernikahan saya dengan Raya. Tapi....”
“Mas Jhon!” pekikku seketika.
Ada sebercak air mata meleleh di pipiku. Pertanda apakah ini? Mengapa ucapan itu muncul dari mulut Mas Jhon? Itu adalah kata-kata yang tidak pernah aku harapkan muncul dalam hidupku. Tuhan!
“kenapa Mas?” tanyaku sambil berurai air mata.
“Raya....”
“Mas, aku tidak pernah mengharap seperti ini! Mana janjimu Mas? Lupakah pada hal itu? Tolong jangan ucapkan itu Mas!” tegasku sambil terus menagis.
Ibu mendekapku. Seperti kusadari, aku, tante Mirna, dan ibu menagis. Hanya Mas Jhon yang tampak tegar.
“aku pun tidak mau mengucapkan ini, Raya. Tapi, karena aku menyadari bahwa memang begini keadaannya. Aku dan kamu bersatu bukan sebagai sepasang suami istri.”
“lalu apa, Mas? Sebagai apa?”
“sebagai............”
“Jhon!” pekik tante Mirna.
~~~~~
Oleh:
Santi Wahyu Pamungkas
Malam begitu sunyi. Hanya suara deru angin menemani derasnya hujan yang turun. Suasana di luar tampak kemilau dengan kilauan guntur yang terus bergemuruh di tengah malam gulita. Seperti ada yang tak biasa malam ini. Tak satupun terdengar suara kendaraan berlalulalang. Hal yang seakan belum pernah di rasakan sebelumnya. Malam ini ada yang ganjil di benakku. Seperti takut untuk memandang malam sendirian. Kusadari, sebercak sinar kecil berhenti di atas buku yang baru saja selesai ku baca. Kunang-kunang kecil yang lucu. Warna kuning kecil sebagai pertanda bahwa ia muncul kembali.
Aku terdiam sambil terus memandangi kunang-kunang kecil di atas buku. Tak kuasa berdiam sendiri menati hal yang tidak mungkin ku nanti sendiri. Mataku terasa berat untuk terus terbuka. Waktu itu pukul 22.45, dan aku sedikitpun belum mau beranjak untuk tidur walau matakupun telah redup. Kupandangi lagit kamarku yang penuh dengan warna kesucian itu. Sejenak aku membaringkan tubuhku pada ranjang yang ada di bagian ujung kamarku itu. Dalam sekejap aku terpejam dan kantukpun datang.
Baru saja aku terlelap, pintu kamarku di ketuk dari luar. Aku regagap dan bangun. Sambil merapihkan rambutku, aku bernjak menuju bibir pintu. Ku dengar suara ibu memanggil namaku.
“Raya! Bangun sebentar, nak,”kata ibu dari luar.
Aku segera membuka daun pintu. Kulihat ada sebercak bekas air mata di pipi ibu yang mulai keriput karena faktor usia. Aku bertanya-tanya dalam hati.
“ada apa ibu memanggilku malam-malam begini? Sepertinya ibu habis menangis?” tanyaku pada ibu.
Ibu diam tidak menjawab. Bahkan yang membuatku semakin tidak mengerti yaitu ketika ibu kembali menjatuhkan air matanya. Ada perasaan panik di fikiranku.
“ibu kenapa? Mengapa ibu menagis? Katakan pada Raya, apa yang terjadi, Bu!” pintaku pada ibu.
Ibu masih diam. Aku menjadi semakin bingung. Sebentar kemudian aku mendengar ibu menyebutkan nama Mas Jhon dengan nada suara yang begitu rendah dan aku hampir tidak mendengarnya. Dalam hatiku bertanya-tanya.
“ada apa dengan Mas Jhon, Bu? Mengapa Ibu menagis?” tanyaku kemudian.
“Jhon..... Jhon.... Jhon kecelakaan, Raya.” Pekik ibu.
Seketika tubuhku lemas dan tak lama kemudian gelap menyelimuti mataku.
Pagi hari ini kurasakan tiada kesejukkan di rona mataku. Sejak aku sadar dari pingsanku semalam, aku terus menangis. Seperinya hujan semalam bertanda buruk untukku. Kini akupun merasakan hal yang sama sekali menyedihkan. Ada yang kurang dari kekuatanku jika Mas Jhon tiada di dekatku. Dia adalah orang yang telah menjagaku selama 4 tahun terakhir ini. Kini kami sama-sama tergeletak di rumah sakit yang berbeda.
Sebanarnya hari senin esok adalah hari bahagiaku bersama Mas Jhon. Tapi kecelakaan semalam agaknya akan mengganggu hari indah kita nanti.
Aku ingin beranjak bangun dan menemui Mas Jhon. Tapi tubuhku belum sehat betul. Aku hanya menangis sendiri di atas tempat tidur itu. Ibu tertidur di sampingku dengan wajah yang tanpa kebahagiaan. Aku merasa ada yang kurang dengan keluargaku. Di mana Mahesa? Sejak sore kemarin rasannya aku tidak melihatnya. Apakah dia main kerumah temannya hingga larut malam dan tidak kunjung pulang? Apakah ia tidak tahu sekarang aku sedang tergelatak di rumah sakit? Fikiranku jadi tidak menetu. Entah memikirkan Mas Jhon ataupun Mahesa.
Ibu masih terlelap di sampingku. Aku kasihan melihat wajahnya yang kian lama kian murung. Setelah di tinggal ayah, ibu tampak tertekan dengan hadirnya hari-hari baru di hidupnya.
Sekarang hal yang tak kami inginkan datang kembali. Aku benar-benar tidak mengerti apa maunya hidup ini. Kadang jika aku sedang bahagia, segalanya terasa singkat. Berbeda seperti hari ini. Waktu terasa lama untuk berputar.
Ada yang bergerak di sisiku. Ibu rupanya telah bangun dari tidurnya yang sama sekali tidak pulas. Ada bekas tangis yang sangat mendalam di wajahnya. Mungkin karena ada rasa sesal di dalam hatinya tentang kejadian semalam. Ibu menyerka wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Kuberikan senyum istimewaku walau senyum ini tidak pernah ku rencanakan. Beliau membalas senyuman yang baru saja lenyap dari bibirku. Teramat pahit bagikku.
“sayang, bagaimana? Apakah masih pusing?” tanya ibu padaku,
“sudah agak berkurang, Bu. Aku ingin cepat pulang.” Pintaku pada ibu.
“biarkan hilang dahulu sakitnya, baru nanti kita pulang.” Kata ibu.
“baik, Bu. Aku mengerti”
“ibu tahu, kamu pasti mengkhawatirkan keadaan Jhon. Tapi, kamu juga harus memperhatikan kondisi tubuhmu. Ibu tahu kamu sangat menyayangi Jhon.”
“ibu...jangan buat aku jadi memikirkan yang tidak-tidak. Aku akan semakin khawatir jika ibu berkata begitu.”
“maafkan ibu, Raya.”
Aku hanya mengangguk pelan sambil terus memandangi dinding tembok yang begitu kokoh berdiri di hadapan ku. Ku geser sedikit tempatku berbaring agar nyaman.
“ibu, sejak sore kemarin aku tidak melihat Mahesa di rumah. Kemana dia?” tanyaku pada ibu.
“kemarin ia pamit mau belajar di rumah temannya. Katanya mau lembur tugas sekolah yang belum selesai. Nanti juga ia pulang.” Kata ibu padaku.
“apakah ia tidak tahu aku berada di sini sekarang? Ibu belum memberikan kabar padanya?”
“ibu sudah mencoba menelponnya. Tapi handphonnya tidak aktif.”
“ibu tidak khawatir dengan Mahesa? Dia anak perempuan! Kalau sampai terjadi apa-apa dengan dia bagaimana, Bu? Mengapa ibu ijinkan ia keluar malam-malam begitu?”
“Raya, tenagkan fikiranmu. Ibu percaya Mahesa dapat menjaga diri dengan baik. Dia sudah besar, tentunya ia dapat berfikir untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.”
“huh...........ibu terlalu percaya pada kedewasaan orang. Belum tentu Mahesa mengerti ini dan itu yang benar dan yang salah.”
“sudahlah, kau harus beristirahat. Bukan untuk marah-marah begitu pada ibu!”
Aku terdiam sejurus. Ada perasaan kecewa terhadap pendapat ibu yang baru saja.
**********
Tubuhku sudah agak baik dari hari kemarin. Sekarang aku berada di rumah setelah dua hari tergeletak di rumah sakit. Mahesa telah pulang sore kemarin. Tidak ada sedikitpun perasaan yang muncul dari raut wajahnya yang sudah tampak dewasa. Bahkan megetahui aku sakitpun ia seperti acuh dan tidak mau mengerti keaadaanku sekarang.Begitukah jika orang sudah terbiasa dengan dunianya sendiri.
Hari ini aku menjenguk Mas Jhon di rumah sakit. Tapi ternyata Mas Jhon sudah dibawa pulang ke rumah. Berarti kondisinya sudah membaik.
Aku dan ibu menjenguk Mas Jhon di rumahnya. Kubawakan masakan yang ia sukai, semoga dengan itu ia benar-benar sembuh. Perjalananku agak lama, karena kami harus mengunggu taxi untuk dapat sampai di rumah Mas Jhon. Sepanjang perjalanan, aku dan ibu saling bercakap-cakap. Kadang menceritakan masa indah yang esok akan ku lalui bersama Mas Jhon, kadang pula menceritakan Mahesa yang menjadi acuh dengan aku dan ibu.
Hari ini agaknya aku benar-benar akan bertemu dengan Mas Jhon. Kadang muncul kebahagiaan di hati ini, tapi agaknya kesedihanku tiba-tiba muncul di setiap sela-sela tatapan mata ini. Entahlah, mengapa begini?
Kakiku telah menginjak halaman rumah Mas Jhon. Ada perasaan tidak menentu bergemuruh di benakku. Apa yang akan aku ucapkan nanti ketika aku bertemu dengan Mas Jhon? Aku kehilangan kata-kata yang telah kurangkai semalaman. Kakiku terasa berat untuk melangkah menuju bibir pintu. Terlebih perasaanku yang semakin tidak karuan membuatku enggan untuk memasuki rumah mewah itu.
“Raya, ayo! Kenapa hanya diam di situ? Cepat!” pinta ibu padaku.
Aku tersentak mendengar ucapan ibu yang seperti baru saja aku dengarkan.
Akhirnya, didorong oleh sekumpulan keberanianku, aku mulai menggerakkan bibirku yang menjadi berat untuk mengucapkan kata-kata.
“asalamualaikum”
Tidak ada sahutan dari dalam rumah. Pintu sudah terbuka sejak tadi, tapi rumah tampak sepi. Kuberanikan kembali menyapa. Kali ini aku mendengar sahutan dari dalam rumah. Suara itu sangata aku kenal. Itu pasti suara tante Mirna.
“Raya, Bu Desi. Mari silakan masuk.” Sapa tante Mirna.
“terimakasih,” jawab ibu.
“duduk dulu, saya ambilkan minum sebentar,ya.”
Tante Mirna berlalu ke dapur. Aku dan ibu hanya berpandangan lalu terdiam bersama-sama. Ku pandangi dinding-dinding rumah itu. Sama sekali belum berubah. Ada lukisan lelaki yang tengah duduk di bawah pohon yang rindang, lukisan itulah yang dahulu ku hadiahkan untuk ulang tahun Mas Jhon yang ke 28 tahun.
Tante Mirna muncul dengan membawa tiga gelas berisi minuman. Kemudian duduk di depan sebelah kanan ibu.
“maaf, Bu. Kami baru bisa menjenguk Jhon sekarang. Dua hari kemarin Raya berada di rumah sakit, jadi kami baru sempat menjenguk sekarang.” Kata ibu.
“tidak apa-apa. Raya sakit apa?”
“biasa. Sakit yang kadang datang. Waktu saya beritahu tentang Jhon, tiba-tiba dia tidak sadarkan diri.”
“tapi sudah sembuh sekarang, Raya?”
“alhamdulillah, Tante. Bagaiman keadaan Mas Jhon? Sudah baik, Tante?” tanyaku.
“begitulah, Raya. Lukanya tidak terlalu parah untungnya.” Jawah Tante Mirna dengan raut wajah yang kurang cerah.
“oh....bolehkah saya bertemu Mas Jhon, Tante?” kataku yang mulai kehilangan kata-kata.
“boleh. Biar Tante panggil ke sini saja dia.” Kata tante Mirna sambil beranjak dari duduknya.
Aku merapihkan jilbabku. Kutata perasaanku untuk bertemu orang yang aku kenal sejak 4 tahun silam.
Tidak lama, ku lihat Mas Jhon berjalan sambil menyeret kakinya. Aku beranjak untuk membantunya berjalan, tapi entah mengapa tiba-tiba Mas Jhon memberi isyarat padaku untuk tidak beranjak dari tempat dudukku. Aku tertegun? Hatiku bertanya-tanya. Apa yang terjadi? Mengapa Mas Jhon lain dari hari biasanya? Apa dia marah padaku karena aku baru bisa menjenguknya sekarang? Fikiranku terasa penuh dengan tanda tanya. Apakah ini namanya fikiran yang tengah gundah?
Mataku berkaca-kaca. Hampir saja air mata ini menetes, tapi buru-buru ku tundukkan kepalaku agar Mas Jhon tidak mengetahuinya.
“Selamat siang tante,” sapa Mas Jhon pada ibu sambil duduk di dekat tante Mirna.
“siang, Jhon? Bagaimana keadaanmu sekarang? Sudah lebih baik bukan? Maaf tante dan Raya baru bisa menjenguk sekarang.” Kata ibu pada Mas Jhon.
“alhamdulillah, Tante. Sudah lebih baik. Tidak apa-apa. Saya tahu.” Jawab Mas Jhon.
Aku tertunduk diam membisu. Entah perasaan apa ini namanya. Ingin rasanya cepat pulang agar aku dapat kembali menata perasaanku ini. Aku seakan tidak menyadari bahwa sejak tadi Mas Jhon menatap wajahku yang terus tertunduk.
“Raya, kenapa hanya diam saja? Bicara sama Jhon.” Kata ibu padaku yang masih tertunduk.
“oh....” aku tergagap dan Mas Jhon melemparkan senyum di bibirnya yang sangat aku kagumi.
“iya, dari tadi diam saja. Apa yang sedang di pikirkan?” goda Mas Jhon.
“tidak! Tidak ada apa-apa kok.”
“huh....sebenarnya malam yang lalu saya mau ke rumah tante. Tapi, sepertinya Tuhan mengabarkan hal yang tidak saya duga kepada diri saya malam itu.” Cerita Mas Jhon.
“sudahlah, Jhon.” Tukas tante Mirna.
Kami terdiam beberapa saat. Kami kehilangan ucapan untuk bercakap-cakap. Telebih aku.
“yang penting sekarang keadaanmu sudah lebih baik, Jhon. Kamu perlu istirahat untuk memulihkan kesehatanmu itu,” kata ibu.
“iya, tante.” Mas Jhon menghela napas dalam-dalam. Lalu di teruskan ucapannya, “sebenarnya, akh..... saya bingung mau bicara dari mana, tante. Kalau saya tidak bicarapun mungkin tante dan Raya sudah tahu sendiri.”
“Jhon!” geram tante Mirna.
“entahlah. Huh......” tukaasnya.
Aku menatap wajah tante Mirna berubah. Matanya berkaca-kaca dan bibirnya bergetar. Sebentar kemudian aku melihat ada tetesan air mata jatuh di pangkuan tante Mirna. Aku dan ibu diam. Sebenarnya apa yang terjadi? Lalu, ku lihat tante Mirna menyerka air mata itu di pipinya.
“apa yang terjadi? Mengapa Ibu tiba-tiba menagis?” tanya ibu pada tante Mirna.
“tidak....tidak apa-apa. Hanya badan saya kurang enak.” Jawab tante Mirna.
“tante, sebenarnya ada satu hal yang akan saya sampaikan kepada tante dan Raya. Sulit sebenarnya. Darimana saya memulainya.” Kata Mas Jhon.
“apa itu, Mas?” tanyaku kemudian.
“kita semua harus kuat hati. Ini bukan hal mudah yang akan ku sampaikan. Tante, sebenarnya ini bukan keinginan saya ataupun mama. Huh.... kalau ini hanya mimpi mungkin saya akan segera bangun dan menemui Raya. Tapi ini adalah kenyataan yang harus kami hadapi besama-sama....” kata-kata Mas Jhon terhenti sejenak.
“sungguh, demi apapun saya sangat mencintai Raya. Tapi, agaknya Tuhan menuliskan yang lain untuk saya dan Raya. Tante, saya sebenarnya tidak mau menggagalkan pernikahan saya dengan Raya. Tapi....”
“Mas Jhon!” pekikku seketika.
Ada sebercak air mata meleleh di pipiku. Pertanda apakah ini? Mengapa ucapan itu muncul dari mulut Mas Jhon? Itu adalah kata-kata yang tidak pernah aku harapkan muncul dalam hidupku. Tuhan!
“kenapa Mas?” tanyaku sambil berurai air mata.
“Raya....”
“Mas, aku tidak pernah mengharap seperti ini! Mana janjimu Mas? Lupakah pada hal itu? Tolong jangan ucapkan itu Mas!” tegasku sambil terus menagis.
Ibu mendekapku. Seperti kusadari, aku, tante Mirna, dan ibu menagis. Hanya Mas Jhon yang tampak tegar.
“aku pun tidak mau mengucapkan ini, Raya. Tapi, karena aku menyadari bahwa memang begini keadaannya. Aku dan kamu bersatu bukan sebagai sepasang suami istri.”
“lalu apa, Mas? Sebagai apa?”
“sebagai............”
“Jhon!” pekik tante Mirna.
~~~~~
Oleh:
Santi Wahyu Pamungkas
Jumat, 22 Februari 2013
Pengalaman Prakerin di Kantor Bappeda Gunungkidul
Praktik Kerja Industri diserahkan menjadi tempat
untuk belajar mempraktikkan yang didapat di sekolah secara langsung dan nyata
di Dunia Usaha/Dunia Industri. Oleh sebab itu, Kami merasa senang selama Prakerin di Bappeda karena kami mendapatkan pelajaran di dunia usaha yang belum kami dapatkan sebelumnya disekolahan.
Di Bappeda kami menemukan keserasian antara pelajaran yang selalu kami dapatkan di sekolah dengan tugas-tugas yang di berikan kepada kami selama Prakerin di Kantor Bappeda Gunungkidul.
Untuk program keahlian Administrasi Perkantoran
ditetapkan di kantor-kantor atau instansi pemerintah. Dimaksudkan agar dapat
menyesuaikan dengan pelajaran produktif di sekolah yang lebih mengarah pada
pekerjaan-pekerjaan Administrasi di Perkantoran. Dari hal tersebut kami harus dapat
mencapai sasaran Praktik Kerja Industri terutama dalam hal kesekretariatan yang meliputi:
1. Penerimaan
tamu
2. Pelayanan
kepada masyarakat
3. Penanganan
telephone
4. Memproses
surat masuk dan keluar
5. Pengetikan
manual maupun dengan computer
6. Mengelola
arsip
7. Pengandaan
dokumen
Semua itu sangat bermanfaat bagi kami untuk sekarang dan masa depan. Terima kasih untuk semua pihak yang telah membantu kami selama melaksanakan Prakerin di Kantor Bappeda Gunungkidul.
Senin, 18 Februari 2013
LATIHAN SOAL IPA
CARA MENANGANI LIMBAH
SOAL PILIHAN GANDA
1.
Pengelolaan limbah B3 dikuatkan melalui
Peraturan Pemerintah No. 74 Th 2001 pada tanggal….
a.
27 februari 1999 d.
26 november 2001
b.
27 februari 2001 e.
26 november 2000
c.
22 februari 2001
2.
Kepanjangan dari limbah B3 adalah….
a.
Bahan berbahaya dan beracun d. bahan berbuangan
berbahaya
b.
Bahan buangan beracun e. bahan buangan berbau
c.
Bahan berbahaya dam berbau
3.
Sisa dari kegiatan yng mengandung bahan
berbahaya dan beracun yang membahayakan lingkungan hidup di sebut….
a.
Limbah cair d.
limbah beracun
b.
Limbah padat e.
limbah gas
c.
Limbah B3
4.
Mencegah dan menanggulangi pencemaran limgkungan
merupakan….
a.
Manfaat B3 d.
karakteristik B3
b.
Identifikasi limbah B3 e. tujuan pengelolaan B3
c.
Pengertian B3
5.
Pengidentifikasian limbah B3 digolongkan menjadi
2 yaitu berdasarkan sumber dan….
a.
Spesifik d.
bahan kimia
b.
Pengkonsidasi e.
bahaya
c.
Karakteristik
6.
Salah satu golongan limbah B3 berdasarkan
sumber yaitu….
a.
Limbah B3 mudah meledak d. pengoksidasi
b.
Limbah B3 dari sumber spesifik e. limbah B3 beracun
c.
Limbah B3 mudah menyala
7.
Pengoksidasi merupakan salah satu penentu pada
golongan limbah B3 yang berdasarkan….
a.
Spesifik d.
karakteristik
b.
Sumber e.
ciri-ciri B3
c.
Bahan kimia
8.
Berikut bukan golongan limbah B3 yang berdasarkan
karakteristik adalah….
a.
Limbah B3 dari sumber spesifik d. Mudah menyala
b.
Mudah meledak e.
Sangat mudah menyala
c.
Pengoksidasi
9.
1. Pengoksidasi 4.
karsinigenik
2. limbah B3 dari sumber spesifik 5. korosif
3. limbah B3 dari bahan kimia kadaluarsa 6. Mutagenik
Yang merupakan golongan limbah B3
berdasarkan karakteristik yaitu….
a.
1,2, dan 3 d.
4,5, dan 6
b.
1,3, dan 4 e.
1,3,dan 6
c.
3,4, dan5
10.
Berikut bukan kegiatan pengeloaan limbah B3
yaitu….
a.
Pengumpulan d.
penimbunan
b.
Pengangkutan e.
tanpa pengolahan
c.
Pemanfaatan
11.
Pengolahan limbah B3 mengacu pada keputusan
kepala Bappedal Nomor….
a.
Kep-03/BAPPEDAL/08/1995 d.Kep-03/BAPPEDAL/09/1998
b.
Kep-03/BAPPEDAL/09/1995 e.
Kep-03/BAPPEDAL/09/2000
c.
Kep-03/BAPPEDAL/09/1999
12.
Syarat lokasi pengolahan B3 di dalam area
penghasil harus….
a.
Jarak dengan fasilitas umum minimum 50 m
b.
Daerah pemukiman
c.
Daerah tidak bebas banjir
d.
Jarak dengan sumur penduduk minimum 300 m
e.
Daerah lingkungan yang subur
13.
Jarak dengan wilayah terlindungi minimum 300 m
merupakan salah satu….
a.
Syarat lokasi pengolahan di dalam area penghasil
b.
Tujuan area penghasil
c.
Menfaat daerah lokasi pengolah
d.
Syarat lokasi pengolahan di luar area penghasil
e.
Ukuran atau jarak lokasi pengolahan
14.
Persyaratan fasilitas pengolahan harus
menerapkan sistem operasi, meliputi kecuali…..
a.
Sistem keamanan fasilitas d. sistem pengulangan keadaan
b.
Pelatihan karyawan e.
sistem pengujian peralatan
c.
Proses Insinerasi
15.
Perlakuan limbah B3 untuk pengolahan dengan
proses secara kimia yaitu…..
a.
Dialisa d.
pemisahan cairan
b.
Osmosis balik e.
netralisasi
c.
Pembersihan gas
16.
Perlakuan limbah B3 untuk pengolahan dengan
proses secara fisika meliputi….
a.
Redoks dan pengendapan d. penyebaran dan adsopsi
b.
Dialisa dan osimosis balik e.
netralisasi dan osimosis balik
c.
Dialisa dan pirolisa
17.
Proses stabilisasi disebut juga dengan….
a.
Prises insenerasi d.proses
solidifikasi
b.
Proses fisika e.
proses secara kimia
c.
Proses secara fisika dan kimia
18.
Proses solidifikasi pada pengolahan limbah
bertujuan mengurangi potensi racun dab kendungan limbah B3 dengan cara….
a.
Membatasi daya larut d. penukaran ion
b.
Pembersihan gas e.
pengendapan
c.
Pembakaran
19.
Proses insinerasi pada pengolahan limbah B3
dilakukaan dengan cara….
a.
Membatasi daya larut d. penukaran ion
b.
Pembersihan gas e.
pengendapan
c.
Pembakaran
20.
Hierarki pengolahan limbah B3 yang benar
yaitu…..
a.
Reduksi pada sumber, pemanfaatan, penimbunan,
dan pemusnahan
b.
Pemanfaatan dan penimbunan
c.
Pengolahan dan pemusnahan
d.
Redukdi pada sumber dan penimbunan
e.
Reduksi pada sumber, pemanfaatan, pemusnahan
dan pengolahan, penimbunan
21.
Berikut yang bukan cara minimasi limbah B3
adalah….
a.
Subtitusi bahan d.
pengaturan operasi kegiatan
b.
Subtitusi limbah B3 e. penerapan
teknologi bersih
c.
Reduksi pada sumber dengan pengolahan bahan
22.
Pengumpulan limbah B3 maksimal dilakukan dalam
waktu…..
a.
90 hari d.
70 hari
b.
80 hari e.
95 hari
c.
75 hari
23.
1. Memiliki dokumen limbah B3
2. tanpa rekomendasi dari KLH
3. melaporkan kegiatan pengangkatan limbah
B3
4. menggunakan alat angkut khusus
Persyaratan pengangkutan limbah B3 yang
tepat yaitu…..
a.
1,2, dan 3 d.
2,3, dan 4
b.
1,2, dan 4 e.
1,3, dan 4
c.
1,2,3, dan 4
24.
Prinsip pemanfaatan limbah B3 yabg benar
yaitu…..
a.
merusak lingkungan
b.
terintegrasi dengan proses produksi
c.
mempunyai standar mutu produk
d.
tidak adanya demand pasar
e.
masuk alat pengendalai pencemaran
25.
persyaratan lokasi penimbunan limbah B3 yaitu….
a.
Tidak mengandung radioaktif
b.
Curah hujan kecil
c.
Memenuhi naku mutu TCLP
d.
Menandung zat organic
e.
Tidak mengandung PCB
26.
Jenis pengolahan air limbah secara biologi dapat
memanfaatkan kerja….
a.
Manusia d.
hewan
b.
Bahan kimia e.
mikroorganisme
c.
Jamur
27.
1. Keasaman 4.
Fenol 7.
Logam berat beracun
2. padatan 5.
Suhu 8.
BOD
3. bau 6.
Nitrogen 9.
Kekeruhan
Larakter fisik difat air limbah yang benar
terdapat pada nomor……
a.
1,2,3, dan 4 d.3,5,7,
dan 9
b.
4,6,7, dan 9 e.
2,3,5, dan 8
c.
2,3,5, dan 9
28.
Bagian dari system pembuangan air limbah
disebut…..
a.
Sanitasi d.
air
b.
Air limbah e.
baku mutu air limbah
c.
Air kotor
29.
Agar septic tank tidak mudah penuh , awet dan tahan lama hal yang perlu
diperhatikan, kecuali….
a.
Bak kuat dan kedap air d. pipa dipasang secara
vertical
b.
Kemiringan pipa e.
sesuai kapasitas septic tank
c.
Pemilihan pia yang tepat
30.
Manfaat pembangunan sumur resepan air yang tepat ialah….
a.
Mempertahankan tinggi muka air tanah dan
menambah persediaan air
b.
Menambah aliran permukaan
c.
Bentuk kondtruksi SRA sederhana
d.
Tidak memerlukan biaya yang besar
e.
Menurunnya lahan
SOAL ESAY SINGKAT
1. Rekayasa teknik konversi air yang menyerupai sumur
gali sebagai tempat penampung air hujan si atas atap rumah dan meresapnya ke
ralam tananh disebut…….
2.
Pencemaran
udara dapat didefinisikan sebagai hadirnya substansi di udara yang dapat berupa
gas, cair maupun…….
3.
Factor
yang menyebabkan dominannya pengaruh sector transportasi terhadp pencemaran
udara yaitu perkembangan jumlah kendaraan yang cepat atau disebut…….
4.
Dampak
polusi udara dalam jangkan pendek dapat berupa……dan…….
5.
Untuk
mengatasi polusi udara ditujukan pada pembenahan sector……
6.
Pemeliharaan
yang buruk pada alat transportasi dapat dengan cepat membuaty pengendalian
emisi menjadi……..
7.
Biodiesel,
BBG, dan bioetanol merupakan…….. yang ramah lingkungan
8.
Potensi
terbesar polusi oleh kendaraan bermotor adalah ……. Dan tanjakan
9.
Uji
emisi harus dilakukan secara berkala pada kendaraan umum maupun pribadi meskipun
secara uji petik atau disebut……….
10. Kategori sampah dalam rumah yaitu
barang yang masih dapat di urai oleh tanah, sampah padat yang tidak dapat
diurai, dan…….
11. Batere bekas dan bola lampu bekas
adalah kategori sampah……
12. Cara menangani sampah dapat dilakukan
dengan cara reuse, reduce, dan …..
13. Mengurangi segala sesuatu yang
mengakibatkan sampah di sebut……
14. Olah sampah kertas menjadi kertas
kembali merupakan contoh kegiatan…..
15. Berbagai jenis limbah padat dapat
mengalami proses daur ulang menjadi……..
16. Contoh jenis limbah padat yang
dapat di daur ulang adalah kertas, kaca, logam, plastic, dan ……..
17. Setiap limbah B3 harus
diidentifikasi dan dilakukan ………….kandungan, guna menetapkan prosedur yang
tepat dalam pengolahan limbah
18. Jenis perlakuan terhadap limbah
B3 tergantung pada karakteristik dan ……
19. Air bungan yang dihasilkan dari
suatu proses produksi industry maupun domestik disebut …….
20. Sumur rembesan atau sumur kotoran
disebut dengan ………
Langganan:
Postingan (Atom)